PKMF II
Acara PKMF II (Pelatihan Kepemimpinan Mahasiswa Fakultas) yang diselenggarakan oleh BEMF kemarin berlangsung
selama 2 hari 3 malam di Vila Maria Sonak, Cisarua, Bogor. Selama berada di
sana, saya mendapatkan banyak latihan dan kuliah yang sangat bermanfaat bagi
saya dan mungkin juga sama dengan peserta lainnya.
Kami tiba di sana saat hampir tengah malam.
Karena kami ke sana menggunakan kendaraan umum per kelompoknya, kami tiba
dengan estimasi waktu yang berbeda-beda. Setibanya di sana, kami istirahat sebentar,
kemudian dilanjutkan dengan berjalan kaki menuju vila.
Pada
hari Sabtu, 30 Mei 2015, kita memulai agenda dengan senam pagi dan dilanjutkan
dengan sarapan. Setelah itu, kami mendapatkan materi tentang negosiasi yang
kemudian dilanjutkan dengan praktik ke lapangan langsung. Berikut adalah
materinya.
Negosiasi
Moderator :
Habiburosyid
Pembicara :
Irfandi Faisal
Awal pemberian materi, pembicara
memulainya dengan beberapa kata yang kurang lebih berbunyi seperti ini: “Saya
semangat dengan ketemu adik-adik di UNJ, karena dengan bertemu semangat saya
ikut terbakar”.
Negosiasi adalah proses tawar menawar dengan jalan
berunding dengan beberapa pihak. Hai ini dilakukan untuk mencapai tujuan dan
kepentingan atau kesepakatan bersama (kepentingan orang banyak). Berikut ini
adalah level situasi negosiasi :
- Top level
Top level, adalah level yang
paling atas. Di sini, kita bisa pakai sifat instruktif karena tidak adanya
perlawanan dari lawan negosiasi.
- Equivalent level
Ialah negosiasi yang ada pada
umumnya. Semua pihak negosiator sama kuatnya. Pada level ini biasanya terjadi pada
:
- Personal negosiasi, yakni negosiasi perorangan.
- Tim negosiasi
- Forum negosiasi/manajemen forum
- Contohnya adalah Meja Forum. Cara bernegosiasi di sini, kita mulai dengan provokasi terlebih dulu, kemudian dilanjutkan dengan pemberian fakta, dan terakhir adalah pemberian solusi (saat kondisi sudah stagnan). Cara tersebut digunakan agar kita dapat lebih meningkatkan persentase keberhasilan negosiasi.
- public negosiasi/manajemen public.
- contohnya : Rektorat, BEMUN
- Grassroot level
Level kita di bawah level pada
orang yang ingin kita ajak negosiasi(di-underestimate)
Negosiasi menghasilkan empat macam kondisi yang di sini kita
sebut sebagai 4 kuadran manajemen
konflik, yakni :
- Sama-sama menang
- Kalah-menang
- Menang-kalah
- Sama-sama kalah
Syarat menjadi negosiator yang baik :
- Terpecaya
- Percaya diri
- Menguasai substansi materi
- Menguasai teknik komunikasi
Persiapan dalam bernegosiasi :
- Mental
- Perencanaan
- Pemahaman terhadap tujuan (goal setting)
- Daya tahan emosi
Cara melatihnya dengan sering-sering
berada pada kondisi yang membuat kita kesal
- Penampilan (agar tidak di-underestimate)
Alibi saat mau negosiasi itu,
kita basa-basi mau memberi solusi terhadap permasalahan yang dinegosiasikan.
Lau, untuk mencegah perluasan masalah harus dimoderatori dengan baik. Kita berkonspirasi
sederhana rekayasa sosial.
Masih pada hari yang sama,
malamnya kami mendapat materi dari pembicara yang luar biasa. Berikut adalah
resumenya.
Gerakan mahasiswa
Antara idealisme dan realitas
Moderator :
Faik Setiadi
Pembicara :
Pradipta Hendrawanputra.
Indonesia adalah salah satu dari
negara yang SDA dan SDM-nya melimpah. Meskipun begitu, ada 3 buah paradoks yang
menggambar keadaan Indonesia saat ini, yakni : Kita kaya tapi miskin, Kita
besar tapi kerdil, Kita merdeka tapi terjajah. Bumi pertiwi ini sangat
menyedihkan kondisinya saat ini. Untuk itu, mahasiswa harus bergerak untuk
perbaikan negeri ini. Gerakan mahasiswa dapat mengubah kebijakan. Pemuda dapat
merubah negeri ini karena 4 karakternya, yaitu : Iman, Ikhlas, Semangat, dan Amal.
Karakter gerakan mahasiswa, ada 3 yakni :
- Agent of change
- Moral force
- Iron stock
Gerakan mahasiswa adalah salah satu bentuk perwujudan dari Tridarma
Perguruan Tinggi, yaitu yang menyangkut tentang :
- Pendidikan
- Penelitian
- Pengabdian masyarakat
Saat ini, kita sedang dijajah.
Dijajah di sini berbeda dengan penjajahan pada zaman dahulu. Dulu, kita dijajah
secara fisik, dan terlihat bentuk penjajahannya. Berbeda dengan zaman sekarang,
saat ini kita sedang dijajah mentalnya. Untuk itu, mahasiswa harus bergerak, lawan
arus perubahan. Salah satu bentuk itu adalah aksi. Poin yang paling penting
dalam aksi adalah manajemen aksi. Aksi
tidak boleh meninggalkan kewajiban, contohnya : shalat. Aksi intelektual
dan sosial itu tidak salah bila diletakkan pada momentum yang benar. Jika akan ada
aksi jalanan, tidak perlu lagi aksi intelektual lagi pada sebelumnya. Hal ini
akan berdampak pada aksi jalanan yang akan dipandang sebelah mata.
Hari
kedua dan terakhir kami di sana, kami mendapat materi yang sangat familiar
dengan fungsi mahasiswa, yakni sebagai penyambung lidah rakyat. Materi ini
disampaikan pada pagi hari. Usai pemberian materi ini, kami juga langsung
mendapatkan simulasi aksi yang luar biasa. Kami bertindak sebagai mahasiswa
yang sedang menggelar aksi. Simulasi tersebut dilakukan dengan cukup detail.
Para panitia ada yang bertindak sebagai polisi, kementrian, juru bicara, dll.
Saat aksi itu juga, kami diberikan berbagai macam gangguan contohnya penyusup,
orang yang sedang berjualan, dan pihak lain yang sedang menggelar aksi juga.
Nah, berikut ini adalah materi yang kami dapat sebelum simulasi.
Manajemen aksi
Pembicara : Pradipta Hendrawanputra.
Manajemen aksi adalah proses mengelola semua komponen sistem
agar tujuan dapat tercapai dengan efisien dan efektif atau bisa juga diartikan
sebagai sarana penyampaian pendapat untuk mendapat dukungan, menarik perhatian,
dan membentuk opini umum. Landasannya bisa kita lihat di surah Ali-Imron ayat
104.
“Jihad yang paling utama ialah mengatakan kalimat yang hak (kebenaran
) kepada penguasa yang zalim”
Latar belakang dalam kita melakukan aksi adalah :
- Matinya jalur penyampaian aspirasi
- Buntunya metode dialog
- Membentuk opini untuk dapat dukungan politik
Mekanisme lahirnya keputusan Aksi :
- Diskusi awal (tim/dept. khusus)
- Diskusi lanjutan (pakar kader)
- Pembentukan tim teknis
- Aksi lapangan
Merancang aksi :
- Tentukan tema
- Target (orang yang hendak diikutsertakan dalam aksi). Bila aksi mungkin berbahaya, akhwat tidak usah ikutserta.
- Massa (jumlah peserta aksi)
- Skenario
- Pemberitahuan, yakni pada pihak polisi contohnya.
- Media interest (publikasi aksi) melalui berbagai media sosial.
- Format (kratif / anarkis). Bila aksi kita ingin disorot publik dan media, aksi harus dirancang sedemikian rupa agar menarik perhatian.
Perangkat aksi :
- Jenderal lapangan (Jendlap). Biasanya hanya Korlap yang mengetahui identitas dari Jendlap. Jendlap bertindak bagai otak dari aksi tersebut. Penyembunyian identitas Jendlap di lakukan agar Jendlap tidak mudah ditangkap.
- Koordinator lapangan (Korlap)
- Orator (penyampai orasi)
- Agitator adalah yang memandu acara, biasanya ada di mobil sound. Seorang agitator haruslah orang yang supel dan menarik. Agitator bisa juga disebut MC.
- Dokumenter, yang mengambil gambar dan video saat aksi
- Border adalah orang yang bertindak seperti pagar, menjaga peserta aksi yang berada di dalam. Mereka bersama-sama mengaitkan tangannya. Border paling luar adalah para laki-laki, yang bagian dalam perempuan.
- Humas yang membagikan press release.
- Negosiator ( 1 atau 2 orang)
- Medis
- Tim kreatif adalah orang yang berteatrikal
- Logistik
Pasca aksi, hal yang dilakukan adalah :
- Evaluasi aksi
- Evaluasi media
- Follow up aksi
- Advokasi
Trik dan tips untuk mendukung aksi :
- Angle foto yang baik
- Kalimat poster yang menarik
- Uniform/seragam
- Propaganda
- Press release
- Yel-yel / lagu-lagu
- Symbolized
- Aliansi taktis
- Menghadapi wartawan
Sekian dari resume PKMF II.
#PKMFmenginspirasi